Pentingnya SD Inpres Terhadap Pembangunan Ekonomi di Indonesia

Akumulasi modal manusia dianggap penting untuk difusi pertumbuhan ekonomi modern di wilayah berkembang di dunia. Rendahnya tingkat pendapatan pribadi, kebijakan yang dijalankan negara akan menjadi substansi yang sangat penting dalam memastikan tingkat modal manusia yang lebih tinggi. Ketika mengevaluasi kebijakan-kebijakan ini, kita sering mengabaikan fakta heterogenitas dalam efek perlakuan dari program-program tersebut yang akan berkontribusi terhadap identifikasi penerima manfaat yang lebih baik dan penargetan yang lebih efisien dan efektif. Salah satu kebijakan yang dapat kita jadikan contoh sebagai sebuah kebijakan yang konkrit adalah pembangunan Sekolah Dasar Inpres yang digagas oleh Soeharto pada tahun 1973 yang menurut penulis bahwa kebijakan tersebut memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap penyempitan kesenjangan dalam pencapaian pendidikan antara anak-anak pada lingkup pendapatan ekonomi menengah ke bawah, yang dimana anak-anak pada lingkup tersebut diberikan kesempatan untuk tetap menuntut pendidikan Sekolah Dasar sebagaimana anak-anak pada lingkup pendapatan ekonomi menengah ke atas. 

Menurut Esther Duflo, Program SD Inpres cukup memberikan dorongan yang signifikan dari populasi masyarakat Indonesia untuk menyelesaikan lebih banyak tahun pendidikan dasar. Dalam artikelnya yang berjudul “Schooling and Labor Market Consequences of School Construction in Indonesia : Evidence from an Usual Policy Experiment” pada tahun 2000. Dalam artikel tersebut Duflo mencatat bahwa program SD Inpres merupakan salah satu program pembangun terbesar yang pernah tercatat pada saat itu, yaitu pada kurun waktu 1973 – 1974. SD Inpres ini muncul di era Soeharto untuk memperluas kesempatan belajar di pedesaan maupun perkotaan yang warganya berpenghasilan rendah. Duflo menjelaskan bahwa pembangunan SD Inpres ini menyebabkan anak-anak usia 2-6 tahun pada 1974 telah menerima 0,12 hingga 0,19 tahun lebih banyak pendidikan untuk setiap sekolah yang dibangun per 1.000 anak di wilayah mereka. 

SD Inpres merupakan kebijakan yang dikeluarkan Presiden Soeharto lewat Instruksi Presiden (Inpres) No 10 Tahun 1973 tentang Program Bantuan Pembangunan Sekolah Dasar dengan hanya berbekal spirit untuk mewujudkan kesempatan pemerataan atas pendidikan, yang hingga 1993/1994 tercatat hampir 150 ribu untuk SD Inpres telah dibangun yang diiringi dengan pertumbuhan kurang lebih sekitar 1 juta guru Inpres pada sekolah-sekolah tersebut. Berkat keberhasilan program SD Inpres ini, pada tanggal 19 Juni 1993 UNESCO Presiden Soeharto mendapat sebuah piagam penghargaan The Avicenna yang secara khusus diberikan kepada Soeharto berkat keberhasilan beliau dalam memberikan kontribusi yang signifikan terhadap modal manusia yang akumulatif melalui sektor pendidikan di Indonesia. 

Bangunan-bangunan SD Inpres saat ini kurang diperhatikan oleh pemerintah. Mereka menganggap bahwa SD Inpres sudah tidak lagi diprioritaskan sebagai sarana untuk menuntaskan pemerataan pendidikan. Pemerintah menganggap dengan berkembangnya zaman, SD Inpres sudah tidak relevan untuk menciptakan SDM sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja. Akan tetapi, pemerintah juga tidak melihat bagaimana banyaknya anak yang berhenti sekolah karena tidak mampu membiayai sekolahnya di berbagai wilayah di Indonesia. SD Inpres seharusnya bisa menjadi solusi bagi anak-anak saat ini sebagai upaya untuk bisa menuntaskan permasalahan masyarakat yang tidak teredukasi. Dengan mendaur ulang sistem serta memperbaiki gedung-gedung SD Inpres seharusnya bisa menjadi solusi. Setelah itu, kurikulum yang baru bisa diterapkan di SD Inpres sebagai pemerataan pendidikan bagi anak-anak golongan kedua yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikan anaknya. 

Penulis : Razak Harianto Artabangun, Alfano Fadil Juyendra


Posted

in

by

Tags:

Comments

One response to “Pentingnya SD Inpres Terhadap Pembangunan Ekonomi di Indonesia”

  1. Agro Sejahtera Avatar
    Agro Sejahtera

    mantap informasinya

    Like

Leave a comment