Pemimpin Negara Dunia : Mengapa Berpendidikan Bidang Hukum, Sosial Politik atau Manajemen ?

A. Latar Belakang Pemimpin

Perang Rusia vs Ukraina sudah berlangsung hampir setahun lamanya sejak invasi Rusia secara resmi tanggal 24 Februari 2022. Kepastian perang berlanjut atau tidak sangat bergantung pada negosiasi pemimpin kedua negara, Putin dan Zelensky.

Researched by Edu Lead

Statistik menunjukkan bahwa sebagian besar politisi yang telah berhasil memenangkan pemilihan dan berhasil menyelesaikan masa jabatannya telah mendapatkan dukungan dari latar belakang yang berbeda-beda. Dalam lingkup Sarjana 1 (Bachelor Degree), Sarjana Hukum adalah yang terbanyak, memiliki 32.7 %. Kemudian didukung dengan Social Politics 16.4%, dan ekonomi 16.4%. Dari data tersebut dapat dipahami bahwa sebagian besar politisi yang berhasil memenangkan pemilihan pada lingkup Presiden & Perdana Menteri yang ada di seluruh dunia didominasi oleh mereka yang berasal dari lingkup sosial politik. Hal ini juga didukung dengan mereka juga yang melanjutkan studi Sarjana 2 (Magister Degree) sampai dengan Sarjana 3 (Doctoral Degree), yang dimana para pemimpin yang memiliki latar belakang sosial politik masih mengalami keunggulan dalam persentasenya yakni; 34.8% & 30% (S2 & S3 Sarjana Hukum), 21.7% & 20.0 % (S2 & S3 Sarjana Sosial Politik), dan 26.1 % & 20.0 % (S2 & S3 Sarjana Ekonomi).

Dengan demikian dapat dipahami bahwa para pemimpin politik dalam lingkup Presiden & Perdana Menteri yang ada di seluruh dunia didominasi oleh mereka yang memiliki latar belakang sosial politik. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa apa yang dikatakan oleh Einstein “Politics is more difficult than Physics” adalah sebuah keniscayaan.

Selain itu, berdasarkan data statistik dari 55 orang pemimpin dunia hanya sebanyak 41% atau 23 orang yang menyelesaikan bangku Pascasarjana atau Master Degree. Jika dibandingkan dengan gubernur-gubernur di Indonesia, persentase gubernur dengan jenjang kuliah Master Degree dari 37 orang sebanyak 70% atau 26 orang yang menyelesaikan jenjang ini. Perbandingan ini tentunya menimbulkan pertanyaan mengapa pemimpin-pemimpin negara justru banyak yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya. Disamping itu, justru gubernur-gubernur di Indonesia yang lingkup pemerintahannya lebih kecil mayoritas mempunyai gelar Master Degree. Tentunya kesenjangan ini menimbulkan pertanyaan bagaimana peran pendidikan Pascasarjana dalam mempengaruhi intelektual pemimpin. Apakah jenjang pendidikan master tidak terlalu penting untuk menjalankan pemerintahan?

Menurut vocasia.id, pendidikan Pascasarjana mempunyai berbagai kelebihan dalam bermacam hal. Beberapa kelebihan yang paling penting adalah memiliki pengetahuan yang mendalam terhadap suatu bidang, mengasah kemampuan riset dan analisis, meningkatkan kualitas diri, dan meningkatkan pola pikir yang matang. Kelebihan-kelebihan ini tentunya sangat berguna bagi pemimpin dalam menjalankan pemerintahan. Akan tetapi, anomali yang terlihat dari data latar belakang pemimpin negara di dunia ini tidak merepresentasikan pemimpin yang intelektual. Justru lebih banyak gubernur di Indonesia yang menempuh pendidikan Pascasarjana untuk meningkatkan kualitas diri mereka. Mungkin terdapat banyak faktor yang bisa menjadi penyebab anomali ini, tetapi satu hal yang pasti adalah pemimpin yang cerdas niscaya negerinya akan makmur. Pendidikan Pascasarjana memang tidak menjamin kecerdasan seseorang, tetapi hal ini bisa menjadi tolak ukur pertama sebagai penilaian terhadap kecerdasan seseorang.

Selain itu, kebanyakan pemimpin dunia mempunyai latar pendidikan di ranah Sosial Humaniora. Mayoritas dari mereka adalah lulusan Ilmu Hukum, Sosial Politik, dan Ekonomi. Tentunya hal ini bisa terjadi karena banyak dari lulusan Sosial Humaniora mempelajari bagaimana sesuatu terjadi dalam banyak perspektif. Berbeda dengan pendidikan ilmu eksakta yang seringkali lulusannya mempunyai pemikiran yang linear dan lurus terhadap suatu hal. Ranah Sosial Humaniora memang sangat cocok bagi seorang yang memimpin suatu negara karena mereka memahami bagaimana harus bertindak dalam perspektif sosial dan manusia. Mereka dipercaya lebih mengerti bagaimana kehidupan sosial berjalan dan bagaimana politik yang berguna bagi negara dan masyarakat.

B. Ulasan Menarik Mengenai Tiongkok dan Brazil

Tiongkok dan Brasil adalah dua negara yang mempunyai latar belakang politik dan pemimpin yang berbeda. Tiongkok menerapkan politik marxis-leninisme yang membuat mereka hanya menerapkan sistem satu partai. Sebaliknya, Brasil menggunakan demokrasi federal dalam menjalankan pemerintahan di negerinya. Dilihat melalui latar belakang pemimpin kedua negara ini, keduanya mempunyai kemampuan dan gelar yang berbeda satu sama lain. Menariknya, Xi Jinping yang dikenal sebagai pemimpin negara Marxis justru mempunyai latar belakang pendidikan sarjana Teknik Kimia. Sebaliknya, Presiden Jair Bolsonaro memimpin negara demokratis dengan latar belakang pendidikannya yang seorang lulusan akademi militer. Menarik melihat bagaimana latar belakang negara dan pemimpinnya tidak linear, lantas bagaimana kondisi negara tersebut secara politik dan ekonomi?

Xi Jinping yang seorang lulusan Teknik Kimia mampu membuat sistem pemerintahan yang sangat baik. Tiongkok adalah negara komunis yang melakukan berbagai reformasi beberapa kali. Reformasi ini merupakan langkah penting bagi Tiongkok untuk bisa menjadi salah satu negara dengan PDB tertinggi di dunia. Tiongkok mempertahankan komunisme sebagai ideologi negara, tetapi mereka merombak beberapa hal dalam komunisme dan membuat komunis versi mereka sendiri. Tiongkok mengubah sistem ekonomi komunis menjadi ekonomi liberal yang saat ini menjadi langkah yang sangat penting bagi Tiongkok sebagai negara maju. Sejak reformasi ekonomi di Tiongkok pada tahun 1978, mereka perlahan-lahan menjadi negara yang ditakuti oleh negara maju. Tiongkok berhasil menjadi negara yang keluar dari “middle income trap” dan menjadi salah satu negara dengan PDB per kapita paling menjanjikan di dunia.

Namun, dalam pemerintahan yang dipimpin oleh Jair Bolsonaro, Brasil berada di situasi politik dan ekonomi yang naik turun. Brasil memang dilanda permasalahan kemiskinan yang terus melonjak sejak lama. Ditambah dengan kasus virus COVID-19 yang melanda dunia pada 2020 lalu, kondisi Brasil semakin memburuk. Jair Bolsonaro, dengan latar belakang militer melakukan berbagai kebijakan yang berusaha untuk memperbaiki ekonomi Brasil. Akan tetapi, terdapat krisis politik pada tahun 2020 lalu karena banyak rakyat yang menganggap bahwa Jair Bolsonaro memberangus demokrasi. Hal itu bisa teratasi karena fokus negara pada saat itu adalah melawan pandemi COVID-19. Situasi ekonomi di Brasil memprihatinkan dengan menurunnya PDB per kapita di setiap tahunnya. 

Tiga tahun terakhir, Tiongkok dalam kepemimpinan Xi Jinping mengalami lonjakan PDB per kapita yang tinggi. Rata-rata PDB per kapita Tiongkok dalam tiga tahun terakhir sebanyak 11.045.132 USD. Sebaliknya, Brasil selama tiga tahun terakhir mengalami kondisi ekonomi yang buruk. Hal ini tentunya menyebabkan PDB per kapita di negara ini ikut buruk. Rata-rata PDB per kapita Brasil dalam tiga tahun terakhir hanya sebanyak 7.763.956 USD. Bahkan, 2020 lalu PDB per kapita Brasil menyentuh angka PDB per kapita terendah Brasil selama satu dekade terakhir, yaitu sebanyak 6.838.060 USD. Tiongkok yang memegang peran penting dalam penyebaran COVID-19 kemarin justru mengalami kondisi ekonomi yang stabil dan PDB per kapitanya sedikit bertambah. Tentunya semua pencapaian yang didapatkan Tiongkok dengan Xi Jinping yang mempunyai peran besar terhadapnya, membuat latar belakang pendidikan dari Xi Jinping bukanlah sebuah permasalahan yang serius. Mengingat, Xi Jinping yang seorang lulusan sarjana Teknik Kimia mampu mengontrol kestabilan politik dan ekonomi di Tiongkok. Berbeda kondisinya dengan Brasil, pemerintahan di Brasil cukup kewalahan dalam menghadapi persoalan ekonomi di negaranya. Hal ini dibuktikan dari PDB per kapita yang secara konstan terus turun dan tidak stabil. Jair Bolsonaro yang seorang lulusan akademi militer masih belum mampu membawa perubahan yang signifikan bagi Brasil dalam segi ekonominya. PDB per kapita Brasil yang dulunya pernah menyentuh 13.298.230 USD pada tahun 2011, sekarang Brasil mengalami kemunduran PDB per kapita dengan hanya 7.541.960 USD.

C. Peta Penyebaran Latar Belakang Pendidikan

Secara komprehensif penulis percaya bahwa studi sosial adalah sebuah pengajaran disiplin yang cukup dapat jadi fondasi terhadap kita sebagai manusia dalam mengolah daya ataupun kapasitas kritis kita dalam menghadapi dinamika kehidupan. Menurut John Dewey, pentingnya ilmu sosial sudah jelas, dalam ilmu sosial para peserta didik harus belajar tentang studi sosial karena dengan ini para peserta didik dapat mempromosikan dan membantu mengembangkan keterampilan berpikir kritis ketika berhadapan dengan isu-isu humanistik. Yang dimana hal ini adalah sangat penting bagi para peserta didik untuk mengasah pemahaman mereka tentang bagaimana ilmu ini dapat berguna untuk melayani masyarakat yang kompleks. 

Secara pribadi penulis percaya bahwa tujuan dari pada pendidikan ilmu sosial adalah guna untuk memberikan para peserta didik untuk memiliki kapasitas berpikir yang bebas dan juga reflektif. Pendidikan ini akan memberi para peserta didik untuk memiliki kemampuan dan keinginan untuk berpikir secara kritis yang dengan menciptakan pendapat dan refleksi mereka sendiri berdasarkan pengungkapan dan penelitian yang mereka minati sendiri. Karena sejatinya tujuan daripada pendidikan ilmu sosial ini adalah untuk mencapai tiga tujuan utama yakni; untuk membantu para peserta didik menjadi pemikir yang lebih kuat, yang kemudian dapat membantu para peserta didik untuk memahami sebuah pemahaman secara komprehensif dan juga holistik, dan juga pada outputnya dapat membuat studi sosial dapat disimulasikan apa yang akan dihadapi oleh peserta didik dalam masyarakat kita.


Setelah kita mengetahui dan memahami bagaimana studi ilmu sosial ini menjadi sebuah ilmu yang sangat fondasional lebih lanjut penulis akan memberikan sebuah fakta lapangan yang juga telah didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis menggunakan metode penelitian literature review melalui sumber sekunder. Dari hasil penelitian yang penulis dapatkan seperti yang sudah penulis transformasi dalam bentuk sebuah peta persebaran. Dapat dilihat secara jelas bahwa ada warna merah  mendominasi daripada cakupan penyebaran peta dunia tersebut. Perlu digaris bawahi pada peta penyebaran ini penulis memberikan definisi warna merah sebagai mereka yang memiliki latar belakang ilmu sosial. Kemudian warna biru diberikan untuk mereka para pemimpin negara yang memiliki latar belakang pendidikan Sekolah Menengah Atas, warna hijau terang untuk mereka yang memiliki latar belakang pendidikan (education science/teacher) dan warna hijau gelap untuk mereka para pemimpin negara yang memiliki latar belakang pendidikan militer.

Dari penyebaran pemetaan tersebut kita dapat melihat secara jelas bahwa para pemimpin negara di dunia ini, yang kebanyakan daripada mereka masih memimpin disaat tulisan ini dibuat, memiliki latar belakang pendidikan Social Studies. Dengan adanya penemuan ini kita dapat mengkongkritkan hipotesis awal yang penulis ajukan yakni terkait betapa pentingnya Ilmu Sosial (Social Studies) dalam memahami kompleksitas masyarakat yang kompleks. Terlebih hal ini juga dibuktikan oleh para pemimpin terkait, yang memiliki latar belakang pendidikan yang demikian, telah berhasil memimpin sebuah negara yang memiliki cakupan kekuasaan yang tidak kecil.  Hal ini dapat dilihat secara jelas pada Rusia dan United States (Amerika) sebagai salah satu yang secara jelas memiliki cakupan wilayah negara yang cukup luas dibanding negara yang lain, yang dimana kedua pemimpin dari negara tersebut sama-sama memiliki latar belakang yang sama yaitu dari Ilmu Sosial.

Tetapi perlu digaris bawahi bahwa, maksud dan tujuan penelitian ini dilakukan bukan dengan maksud untuk mengesampingkan ilmu-ilmu yang lain, kita tidak menafikan ilmu-ilmu yang lain seperti ilmu sains, agama, olahraga, ataupun seni juga memiliki dampaknya masing-masing terhadap evolusi manusia di seluruh dunia. Maka dari itu perlu dipahami bahwa yang mau ditunjukkan oleh penulis dalam penelitian kali ini adalah bukan tentang mana ilmu yang lebih baik dan mana yang tidak, tetapi penulis hanya ingin mencoba menunjukkan bahwa betapa besarnya dalam Ilmu Sosial terhadap perkembangan sosio kultural yang ada dalam masyarakat kita secara global.

Penulis : Razak Harianto Artabangun, Alfano Fadil Juyendra


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a comment